ilmu antropologi


MAKALAH BUDAYA INSTAN DALAM PENDIDIKAN
ANTROPOLOGI INDONESIA




PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Percaya atau tidak budaya instan sudah ada sejak lama di Indonesia, bahkan sudah menjadi budaya yang diajarkan turun temurun. Budaya instan adalah budaya cepat, tanpa proses rumit yang membutuhkan waktu panjang. Apa buktinya?
1. Kisah Loro Jonggrang. Ia hanya membutuhkan waktu 1 malam saja untuk membuat 1000 candi. Ini benar-benar instan.
2. Kisah Sangkuriang dari Jawa Barat. Cerita rakyat Sunda yang sangat melegenda dengan Gunung Tangkuban Perahunya. Berapa lama dibutuhkan oleh Sangkuriang untuk  membuat kapal yang akhirnya menjadi Gunung Tangkuban Perahu? Hanya 1 malam juga. Sama kisahnya dengan kisah Loro Jonggrang. Atau jangan-jangan karena terilhami dari Loro Jonggrang jadi Dayang Sumbi pun mau yang instan-instan? 1 malam saja.
3. Kisah klasik dari Sumatera Barat (Padang). Kisah Malin Kundang sebagai cerita rakyat khas yang tak asing lagi. Si anak yang durhaka kepada ibunya. Coba tebak, Malin Kundang menjadi batu dalam waktu berapa lama? Pasti tidak tahu kan jawabannya. Nyerah? Ingin tahu jawabannya? Jawabannya seketika, dalam 1 menit saja, dan oleh 1 kutukan saja. Lebih instan dari 1 malam.
4. Kisah jin Aladin (kalau yang ini sepertinya dari dongeng negeri Timur Tengah nih, cuma banyak dikutip di negeri kita). Mau kaya? Mau rumah? Mau apa aja silahkan minta 3 permintaan. “Saya mau ganteng Jin”..dijawab sama Jin: “Ngimpiiiii…”
So, budaya instan itu sudah menjadi budaya kita. Maunya yang cepat-cepat, tak mau mengikuti jalan sunyi (proses panjang). Mungkin sudah jadi warisan dari nenek moyang kita. Coba kita lihat efeknya pada budaya masa kini:
1.      Lagu-lagu zaman sekarang banyak yang instan. Lagu minta ketemu meskipun 1 Jam Saja (Audy), akhirnya ber-Cinta Satu Malam (Melinda), dan efeknya Hamil Duluan. Haddeeehh…ini dipastikan instan
.
2.      Banyak bupati yang dilaporkan karena ijazah palsu (ternyata yang palsu-palsu juga efek dari budaya instan termasuk alamat palsu). Karena apa ijazah palsu? Karena males sekolah lama-lama, beli aja yang sudah jadi, cepat saji. Beres toh.

3.      Banyak artis instan. Entah melalui Youtube, ajang kontes, pemilihan idol, dan ajang-ajang bakat. Tidak seperti dulu, harus menempuh jalan sunyi. Untuk menjadi artis harus ngamen dulu sana-sini, dibayar cuma goceng, disepelekan. Kalau sekarang ces pleng. Kualitasnya bagaimana yang instan dengan yang melalui proses panjang? Silahkan nilai sendiri.


4.      Banyak profesi instan. Tak punya keahlian jadi pak ogah di perempatan jalan. Satu mobil 1000 rupiah, kalau sehari 100 mobil bisa 100 ribu penghasilannya. Instan daripada sekolah dulu capek, dimarahin guru, buku mahal. Mending jadi pak ogah, tinggal lambai-lambai tangan dapat duit deh..!

5.      Banyak pengadilan instan. Tak mau proses pengadilan yang bertele-tele, pengadilan di tempat juga jadi. Berapa pak tarif tilang saya? Damai saja pak ya? Damailah dengan 50 ribu di tempat, salam tempel ke pak polisi yang terhormat.


B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Apa yang dimaksud dengan budaya instan?
2.      Apa contoh budaya instan khususnya dalam dunia pendidikan?
3.      Apa dampak dari adanya budaya instan dalam pendidikan bagi kaum pelajar?

C.     TUJUAN PENULISAN

1.      Untuk mengetahui pengertian budaya instan
2.      Untuk mengetahui contoh budaya instan dalam dunia pendidikan
3.      Untuk mengetahui dampaknya bagi pelajar maupun mahasiswa

Selain itu tujuan dari penulisan makalah ini juga  untuk memenuhi tugas mata kuliah Antropologi Indonesia.












PEMBAHASAN
Apa yang dimaksud dengan budaya instan? Budaya instan berasal dari dua kata yaitu budaya dan instan. Budaya bisa diartikan sebagai kebiasaan, gaya hidup atau pola pikir. Sementara instan bisa diartikan dengan sesuatu yang tiba-tiba, seketika, cepat, tanpa proses yang panjang. Jadi budaya instan adalah kebiasaan atau gaya hidup atau pola pikir yang selalu mengingin segala sesuatunya diperoleh dengan cepat, jika perlu saat itu juga.

Secara umum, budaya instan ini bisa dilihat dari dua sisi yaitu sisi positif dari sisi negatif. Sisi positifnya, budaya ini mendidik kita untuk menghargai waktu, bergerak lebih cepat dan mengusahakan sesuatu seefisien mungkin. Sementara sisi negatifnya juga ada yaitu budaya instan cenderung lebih berorientasi pada hasil, dan tidak jarang melupakan proses. Padahal, baik buruknya hasil sangat ditentukan oleh rangkaian dari proses demi proses.

Budaya instan saat ini telah menjangkiti semua sektor dan sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat indonesia. Mulai dari sektor pertanian, pendidikan, makanan, dan berbagai sektor lainnya. Perkembangan budaya instan ini dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya pengaruh budaya luar, kemajuan teknologi, pengaruh sistem kapitalis dan sebagainya.
Aneh ya, masyarakat Indonesia terlalu mudah tergiur ketika melihat kesukesesan orang lain dan mendambakan kesuksesan tersebut secara instan. Bukan hanya kesuksesan, mulai dari produk makanan, fashion, dan banyak lagi selalu diwarnai dan dilihat secara instan oleh sebagian besar masyarakat.
Kadang berkhayal dan melakukan visualisasi terhadap apa yang kita inginkan itu penting, tapi akan berbahaya ketika tidak diimbangi dengan usaha yang realistis, ibarat orang berdo’a tanpa usaha. Jadinya, muncullah sikap untuk mendapatkan apa yang sangat didambakan secara instan karena waktu yang kita miliki telah banyak terbuang untuk berkhayal dan berangan-angan tentang kesuksesan yang bahkan tak pernah kita usahakan.
Budaya Instan yang merasuki mental bangsa ini, agaknya sudah harus diberantas sedini mungkin. Bukannya bekerja dengan keras, malah menempuh jalan pintas yang tidak jelas, bukannya bekerja dengan cerdas, malah mengambil jalan sesat dan hidup dalam ketidak pastian.
Memang budaya dan pemikiran yang serba instan ini kadang didapat seseorang dengan tanpa disadarinya, banyak sekali kisah-kisah atau dongeng-dongeng yang mengajarkan kita bagaimana seseorang bisa mendapatkan sesuatu secara instan. Kisah Loro Jongrang dengan seribu candinya yang dibangun dalam sekejap, kisah sangkuriang beserta tangkuban perahunya, aladin dengan segala kekayaan dan kekuasaannya, serta banyak lagi kisah-kisah yang secara tidak langsung memberikan iming-iming dan contoh bagaimana kita bisa mendapatkan suatu hal dengan cara yang instan. Akibatnya?, banyak pejabat yang ketahuan memiliki ijazah palsu, industri musik yang matang secara instan karena asupan budaya asing yang bahkan belum matang. Boy Band, Girl Band, bukankah mereka mendapatkan ketenaran secara instan?, suara pun tak mendukung, hanya karena tampang dan trend K-Pop yang sedang hangat saja mereka mempunyai nilai yang bagus di mata publik.
Tepat pada hari ini, ada sebuah berita yang saya dengar dari media televisi tepat pada pukul 12 siang hari. Dalam berita tersebut, diinformasikan bahwa terjadi sebuah penipuan dengan nominal milyaran rupiah, jumlah yang cukup besar untuk penipuan bermodus investasi. Ya, investasi bodong. Tak jarang kita mendengar kasus-kasus sedemikian rupa hadir dan mewarnai gejolak pembangunan dunia usaha di Indonesia.
Ketika kita mulai menganalisis mengenai kasus diatas, akan kita temukan sebuah realitas bahwa keinginan dan harapan serta iming-iming yang menghasilkan sikap mental yang ingin serba instan akan berujung pada kehancuran. Masyarakat Indonesia terlalu mudah diiming-imingi dengan seonggok uang dan kesuksesan semu, yang akan mereka dapatkan dengan cara yang mudah dan mulus, tapi mereka tak melihat bahwasanya hal tersebut merupakan iming-iming belaka. Dengan mudah mereka mengikuti apa yang memang dikehendaki oleh orang lein yang mempunyai maksud dan tujuan yang jahat.
Kalau sejak kita memasuki dunia investasi, sejak saat itu pula hidup kita berada dalam zona ketidak pastian. Kenapa saya sebut dengan ketidak pastian?, karena pada kenyataannya semua jenis investasi berujung pada ketidak pastian. Dunia ini berubah, begitu pula nasib suatu perusahaan dimana kita menjadi seorang investor yang mengharap banyak atas apa yang akan kita dapatkan.
Banyak keuntungan yang dijanjikan, banyak juga tenaga dan pemikiran yang harus kita sisihkan untuk memikirkan resiko yang mengikutinya. Belum lagi resiko penipuan dan isu bahwa layanan investasi yang ditawarkan kepada kita merupakan investasi bodong yang hanya berujung pada kerugian dan penyesalan.
Untuk itulah, bukannya membawa kebahagiaan dan keuntungan, pikiran yang serba instan akan mengantarkan kita kepada kehancuran. Tak ada di dunia ini yang terwujud secara instan. Kalaupun itu terjadi hanya karena keberuntungan atau kuasa Tuhan yang maha besar

Beralih keranah pendidikan, kita melihat fenomena yang tak jauh berbeda. Betapa keinginan untuk menuai hasil dengan cepat ditemui diranah pendidikan. Dimana seharusnya dunia pendidikan adalah ranah yang mendidik jiwa-jiwa muda untuk mencintai ilmu. Mengajak peserta didik untuk menikmati berlelah-lelah dalam menjalani proses belajar. Bukan mengejar hasil yang instan.

Budaya yang instan atau cara berpikir instan, ingin serba cepat, enggan dalam menjalani proses adalah racun dalam dunia pendidikan. Racun yang akan melemahkan semangat belajar dan melahirkan jiwa-jiwa matrealistis. Jiwa-jiwa yang hanya berorientasi pada hasil, mudah putus asa, dan tidak sabar dalam menjalani proses. Jiwa-jiwa seperti ini cenderung akan meimilih jalan instan yang sangat dekat dengan kecurangan. Berikut adalah fenomena budaya instan yang sempat berkembang diranah pendidikan dan bahkan sampai hari ini , yaitu :

1.      Budaya mencontek

Budaya mencontek sangat lengket dengan dunia pendidikan. Biasanya banyak menjangkit dikalangan pelajar. Pendorong utama dari kegiatan mencontek ini adalah tidak lain ingin mendapatkan nilai yang tinggi ditengah kepercayaan diri yang terbatas. Ya, pribadi yang suka mencontek adalah pribadi pribadi yang tidak percaya diri pada kemampuan dan kapasitasnya sendiri. Sehungga ia mengandalkan kertas contekkan atau orang lain untuj mendapatkan hasil yang makimal dalam menyelesaikan soal ujian disekolah. Budaya mencontek adalah salah satu bukti nyata fenomena budaya instan diranah dunia pendidikan.

2.      Generasi copy paste

Setali tiga uang dengan budaya mencontek, generasi copy paste juga merupakan bukti nyata fenomena buadaya instan diranah pendidikan. Mulai dari copy paste laporan, copy paste makalah, copy paste tugas kuliah, hingga copy paste tugas kuliah. Pendorong utama tetap sama, yaitu ingin mendapatkan hasil maksimal dengan usaha minimal.

3.      Ijazah dan gelar instan

Budaya instan yang lain yang sangat mencoreng dalam dunia pendidikan kita adalah  fenomena ijazah dan gelar instan. Kesaktian ijazah daan gelar dalam mencari kesempatan kerja dan jabatan, telah mendorong banyak pihak untuk berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Berbagai upaya pun dikerahkan, tidak sedikit yang kemudian menempuh bangku pendidikan lagi diusia yang tidak muda lagi.

Namun ibarat kata pepatah dimana ada gula disitu ada semut. Banyaknya peminat gelar ijazah dan gelar sarjana menginspirasi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menjual layanan gelar ijazah dan gelar instan. Meraka mencetak ijazah-ijazah dan gelar-gelar palsu untuk diperjualbelikan pada orang-orang yang membutuhkan. Dan pengejar ijazah dan gelarpun tidak sedikit yang kemudan  tergiur dengan iming-iming tersebut. Dengan mengeluarkan sedikit uang dan tanpa bersusah payah harus mengikuti serangkaian perkuliahan yang melelahkan, mereka bisa mendapatkan ijazah dan gelar yang mereka inginkan. Sebuah pemikiran culas yang menghancurkan esensi dari  ijazah dan gelar itu sendiri. Sebuah semangat yang melupakan  tujuan mulia dari dunia pendidikan sesungguhnya

Ya , ranah pendidikan bukanlah tempat yang tepat untuk mengembangkan budaya instan. Karena esensi dari pendidikan adalah rangkain proses belajar bukan hasil dalam bentuk angka-angka. Tujuan dari pendidikan hanya  bisa peroleh melalui  serangkaian proses yang  panjang, bukan hasil yang seketika. Namun, apa lajur tidak ada ranah yang benar-benar steril dari budaya instan. Yang perlu kita lakukan hanyalah membangun jiwa-jiwa yang berkarakter mulia yang dengan sendirinya mampu menawar racun-racun tersebut.

Dari contoh-contoh yang telah dipaparkan, kita bisa melihat budaya instan memang tidak selalu positif. Namun demikian, kehadirannya tidak melulu negatif. Oleh karenanya, ada baiknya kita mencoba melihat fenomena ini dengan adil. Melihat secara seimbang dari berbagai sisi. Hal ini dimaksudkan agar kita bisa memilah dan memilih budaya instan mana yang harus dikembangkan, mana yang harus diwaspadai dan yang harus ditinggalkan sama sekali.
Budaya atau gaya hidup adalah produk sosial harus disikapi secara bijaksana. Tidak semua harus diterima, dan tidak semua juga harus ditolak. Akan tetapi, harus disikapi secara aktif agar kita tidak kehilangan manfaatnya, sekaligus bisa menghidari mudharatnya.
Sisi pisitif budaya instan
Ø  Mendidik kita supaya lebih menghargai waktu
Ciri khaas budaya instan aadalah serba ingin cepat dalam memperoleh hasil atau mencapai tujuan. Hal ini mendidik kita untuk tidak bertele-tele dalam menjalani proses. Sehingga semua bisa diselesaikan dalam waktu yanng cepat sehingga lebih bisa menghargai waktu.
Ø  Lebih efisien
Budaya instan tidak hanya mendewakan kecepatan akan tetapi juga kepraktisan. Sehingga semuanya berlangsung lebih efektif dan efisien. Tidak membuang banyak waktu dan energi.
Ø  Berpotensi menciptakan lapangan kerja baru
Disatu sisi budaya instan muncul sebagai bentuk perkembangan teknologi. Namun disisi lain budaya instan merangsang lahirnya bisnis-bisnis baru untuk melayani kebutuhan masyarakat yang menginginkan segala sesuatunya secara instan.
Contohnya: lahirnya industri jasa, dll

      Sisi negatif budaya instan
Ø  Terlalu berorientasi pada hasil dan melupakan proses
Ya, salah satu kelemahan budaya instan adalah terlalu mendewakan hasil dan cenderung melupakan proses. Hal inilah yang kemudian cenderung mendorong pelakunya berbuat curang demi mencapai tujuan dalam waktu yang cepat.
Ø  Melahirkan jiwa-jiwa yang malas
Budaya instan juga berpotensi melahirkan jiwa-jiwa yang malas yang tidak sabar menjalani proses. Karena sudah terbiasa dan terdidik mendapatkan sesuatu secara cepat dan praktis. Tanpa melalui proses dan usaha panjang untuk memperoleh hasil yang diinginkan.
Ø  Dalam beberapa sisi berpotensi membunuh kreatifitas
Keenggana menjalani proses ini pada akhirnya berpotensi mematikan  kreatifitas seseorang. Beberapa produk yang siap saji, siap pakai membuat banyak orang  yang tidak mengetahui teknik dan cara pengolahan serta enggan berkreatifitas dengan berbagai bahan dasar pembuat produk tersebut.
















PENUTUP

KESIMPULAN

Budaya instan saat ini telah menjangkiti semua sektor dan sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat indonesia. Mulai dari sektor pertanian, pendidikan, makanan, dan berbagai sektor lainnya. Perkembangan budaya instan ini dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya pengaruh budaya luar, kemajuan teknologi, pengaruh sistem kapitalis dan sebagainya.
Secara umum, budaya instan ini bisa dilihat dari dua sisi yaitu sisi positif dari sisi negatif. Sisi positifnya, budaya ini mendidik kita untuk menghargai waktu, bergerak lebih cepat dan mengusahakan sesuatu seefisien mungkin. Sementara sisi negatifnya juga ada yaitu budaya instan cenderung lebih berorientasi pada hasil, dan tidak jarang melupakan proses. Padahal, baik buruknya hasil sangat ditentukan oleh rangkaian dari proses demi proses.

SARAN

Ada baiknya kita mencoba melihat fenomena ini dengan adil. Melihat secara seimbang dari berbagai sisi. Hal ini dimaksudkan agar kita bisa memilah dan memilih budaya instan mana yang harus dikembangkan, mana yang harus diwaspadai dan yang harus ditinggalkan sama sekali.
Budaya atau gaya hidup adalah produk sosial harus disikapi secara bijaksana. Tidak semua harus diterima, dan tidak semua juga harus ditolak. Akan tetapi, harus disikapi secara aktif agar kita tidak kehilangan manfaatnya, sekaligus bisa menghidari mudharatnya.




















DAFTAR PUSTAKA


www.wordpres.com/budaya instandalampendidikan

Fatkhullah , Mukhammad . Budaya Instan yang Membawa Kehancuran. Jakarta. 2012

www.wikipedia.com/dampakbudaya instan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar