Menurut konsepsi
tentang proses evolusi sosial universal, semua harus dipandang bahwa manusia
berkembang dengan lambat (berevolusi) dari tingkat yang rendah ke tingkat yang
lebih tinggi.H. Spencer menggunakan bahan etnografi dan etnografika secara luas
dan sistematis. Spencer memiliki konsep bahwa seluruh alam, baik yang berwujud
nonorganis, organis, maupun superorganis, berfungsi karena didorong oleh
kekuatan mutlak yang disebut evolusi universal. Gambaran tentang evolusi
universal dari umat manusia menurut Spencer dalam buku nya ‘Principles of
Sociology (1876-1896)’, perkembangan masyarakat dan kebudayaan dari setiap bangsa
akan melalui tingkat-tingkat evolusi yang sama. Dia juga tidak mengabaika
secara khusus tiap masyarakat atau sub-sub kebudayaan bisa mengalami
tingkat-tingkat evolusi yang berbeda.Misalnya saja pada awalnya orang Indonesia
memiliki kepercayaan Animisme dan Dinamisme, kemudian mulai percaya dengan
agama Hindhu-Budha, hingga pada akhirnya mengenal agama Kristen dan Islam. Hal
ini membuktikan bahwa Indonesia juga mengalami garis besar evolusi universal
sesuai dengan apa yang dikatan dalam teori H. Spencer.
L.H.Morgan (1818-1881) adalah
seorang perintis antropologi di Amerika terdahulu. Awal kariernya adalah
sebagai ahli hukum yang tinggal bersama dengan suku-suku Indian Iroquois di
Hulu suangi St. Lawrence ( New York). Ia juga banyak melakukan penelitiannya di
sana yaitu untuk meneliti suku Indian Iroquois. Salah satu judul buku terutama
dari karya L.H.Morgan adalah Ancient Society (1877) yang berisikan tentang
delapan tahapan proses terjadinya evolusi kebudayaan secara universal.
Menurut Morgan evolusi kebudayaan secara universal melalui delapan tahapan ( Dadang Suparlan, 2007:223) yaitu:
1. Zaman Liar Tua. Zaman sejak manusia ada sampai menemukan api, kemudian manusia menemukan keahlian meramu dan mencari akar-akar tumbuhan liar untuk hidup.
2. Zaman Liar Madya. Zaman di mana manusia menemukan senjata busur dan panah. Pada zaman ini manusia mulai merobah mata pencahariannya dari meramu menjadi pencari ikan.
3. Zaman Liar Muda. Pada zaman manusia menemukan senjata busur dan panah sampai memiliki kepandaian untuk membuat alat-alat dari tembikar namun kehidupannya masih berburu.
4. Zaman Barbar Tua. Zaman sejak manusia memiliki kepandaian membuat tembikar sampai manusia beternak dan bercocok tanam
Menurut Morgan evolusi kebudayaan secara universal melalui delapan tahapan ( Dadang Suparlan, 2007:223) yaitu:
1. Zaman Liar Tua. Zaman sejak manusia ada sampai menemukan api, kemudian manusia menemukan keahlian meramu dan mencari akar-akar tumbuhan liar untuk hidup.
2. Zaman Liar Madya. Zaman di mana manusia menemukan senjata busur dan panah. Pada zaman ini manusia mulai merobah mata pencahariannya dari meramu menjadi pencari ikan.
3. Zaman Liar Muda. Pada zaman manusia menemukan senjata busur dan panah sampai memiliki kepandaian untuk membuat alat-alat dari tembikar namun kehidupannya masih berburu.
4. Zaman Barbar Tua. Zaman sejak manusia memiliki kepandaian membuat tembikar sampai manusia beternak dan bercocok tanam
5. Zaman Barbar Madya. Zaman sejak manusia beternak dan bercocok tanam
samapai menemukan kepandaian membuat alat-alat atau benda-benda dari logam
6. Zaman Barbar Muda. Zaman sejak manusia memiliki kepandaian membuat alat-alat dari logam sampai manusia mengenal tulisan.
7. Zaman Peradaban Purba, menghasilakan beberapa peradapan klasik zaman batu dan logam
8. Zaman Masa Kini,zaman peradapan klasik sampai sekarang.
6. Zaman Barbar Muda. Zaman sejak manusia memiliki kepandaian membuat alat-alat dari logam sampai manusia mengenal tulisan.
7. Zaman Peradaban Purba, menghasilakan beberapa peradapan klasik zaman batu dan logam
8. Zaman Masa Kini,zaman peradapan klasik sampai sekarang.
Berdasarkan sedikit
penjelasan diatas saya menyimpulkan bahwa evolusi kebudayaan adalah suatu
perubahan budaya secara lambat dan berangsur-angsur yang kemudian menuju pada
suatu perkembangan.Seperti yang disebutkan oleh L.H.Morgan yaitu adanya delapan
tahapan dalam evolusi kebudayaan universal.
Sejarah
teori antropologi (Koentjaraningrat),pokok-pokok antropologi budaya
(t.o.Ihromi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar