FENOMENA TAWURAN ANTAR PELAJAR
Disusun untuk
memenuhi tugas mata kuliah Konflik dan Integrasi Sosial
Disusun oleh :
Ahmad
Mutho’illah 3401412141
JURUSAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
FENOMENA
TAWURAN ANTAR PELAJAR
Terjadinya
tawuran, mengakibatkan norma-norma menjadi terabaikan. Selain itu, menyebabkan
terjadinya perubahan pada aspek hubungan sosial masyarakatnya.. Dalam bukunya
yang berjudul “Dinamika Masyarakat Indonesia”, Prof. Dr. Awan Mutakin, dkk
berpendapat bahwa sistem sosial yang stabil ( equilibrium ) dan
berkesinambungan ( kontinuitas ) senantiasa terpelihara apabila terdapat adanya
pengawasan melalui dua macam mekanisme sosial dalam bentuk sosialisasi dan
pengawasan sosial (kontrol sosial) budaya bangsa Indonesia. Sehingga jika
mendengar kata tawuran, sepertinya masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi.
Hampir setiap minggu, berita itu menghiasi media massa. Bukan hanya tawuran
antar pelajar saja yang menghiasi kolom-kolom media cetak, tetapi tawuran antar
polisi dan tentara, antar polisi pamong praja dengan pedagang kaki lima,
sungguh menyedihkan.
Inilah
fenomena yang terjadi di masyarakat kita. Tawuran antar pelajar maupun tawuran
antar remaja semakin menjadi semenjak terciptanya geng-geng. Perilaku anarki
selalu dipertontonkan di tengah-tengah masyarakat. Mereka itu sudah tidak
merasa bahwa perbuatan itu sangat tidak terpuji dan bisa mengganggu ketenangan
masyarakat. Sebaliknya mereka merasa bangga jika masyarakat itu takut dengan
geng kelompoknya.
Seorang
pelajar seharusnya tidak melakukan tindakan yang tidak terpuji seperti itu.
Biasanya permusuhan antar sekolah dimulai dari masalah yang sangat sepele.
Namun remaja yang masih labil tingkat emosinya justru menanggapinya sebagai
sebuah tantangan. Pemicu lain biasanya dendam Dengan rasa kesetiakawanan yang
tinggi para siswa tersebut akan membalas perlakuan yang disebabkan oleh siswa sekolah
yang dianggap merugikan seorang siswa atau mencemarkan nama baik sekolah
tersebut. Sebenarnya jika kita mau melihat lebih dalam lagi, salah satu akar
permasalahannya adalah tingkat kestresan siswa yang tinggi dan pemahaman agama
yang masih rendah.
ANALISIS
Fenomena tawuran antar pelajar yang
terjadi disebabkan berbagai pandangan sesuatu yang beda penyebab lain bisa
seperti adanya perubahan sosial, adanya perasaan tidak senang atau dendam,
perbedaan kepentingan antar individu / kelompok dan juga buruknya komunikasi. Akibatnya
dengan adanya konflik tersebut dapat menimbulkan perpecahan, rusaknya sarana
dan prasarana umum, meningkatnya keresahan masyarakat, lumpuhnya roda
perekonomian, hancurnya harta benda dan jatuhnya korban jiwa. Tetapi dengan
adanya konflik memunculkan beberapa akibat positif antaranya meningkatkan
solidaritas kelompok, mendorong kekuatan pribadi untuk menghadapi berbagai
situasi konflik, munculnya norma baru, mendorong kesadaran kelompok yang berkonflik
untuk melakukan kompromi.
Konflik tawuran yang terjadi bila
hubungkan dengan teori Lewis Coser yaitu
konflik sebagai mekanisme perubahan sosial dan penyesuaian, dapat
memberi peran positif atau fungsi positif dalam masyarakat. Dengan kata lain
tawuran yang terjadi tidak hanya memberikan hal-hal negatif terhadap
masyarakat, tetapi hal positif dalam situasi tertentu dan kepada siapa positif
itu di terima. Tipe konflik dari konflik realitas sumber dari tawuran bisa dari
asal usul, sesuatu yang diunggulkan dari siswa, dengan mencemooh, kualitas
sekolah. Konflik non realistis sebab tawuran yaitu sumbernya dari ke tidak
rasional, ideologis siswa tawuran seperti masalah harga diri, dendam.
Selanjutnya konflik eksternal dengan adanya tawuran menciptakan dan mempererat
identitas kelompok, meningkatkan partisipasi anggota terhadap pengorganisasian
kelompok, perhatian orang tua dan guru dalam mendidik siswa - siswinya. Teori
internal dengan memberikan koreksi pada perilaku tawuran anggota kelompok.
Dengan adanya tawuran konflik tersebut bisa
diselesaikan dengan berbagai cara yaitu dengan konsiliasi yaitu dari pihak
tawuran di selesaikan di lembaga
tertentu sehingga memperoleh solusi atas masalahnya. Mediasi yaitu dengan
melalui jasa perantara yang bersikap netral sehingga perantara tersebut
mempertemukan dan mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa tersebut.
Arbitrase yaitu penyelesaian tawuran
bisa melalui pihak ketiga dengan membuat keputusan-keputusan berdasarkan
ketentuan atau aturan yang telah di tetapkan. Adjudication yaitu penyelesaian
perkara di meja hijau. Atau dengan Stalemate yaitu tawuran yang berhenti
sendirinya. Dan dapat di cegah dengan
menumbuhkan rasa toleransi terhadap setiap orang dan pendidikan agama serta
moral terhadap siswa sekolah di usia
dini hingga dewasa.
Menurut Koentjaraningrat dalam
perilaku menyimpang terdapat
pengendalian sosial yaitu dengan : (1) Pengendalian sosial bersifat preventif,
adalah semua bentuk pencegahan terhadap terjadinya gangguan pada
keserasian antara kepastian dan
keadilan, atau dengan kata lain tindakan preventif adalah tindakan pencegahan
terhadap kemungkinan terjadinya pelanggaran-pelanggaran terhadap norma-norma
sosial. (2) Pengendalian sosial bersifat represif adalah pengendalian sosial
yang bertujuan untuk mengembalikan keserasian yang pernah terganggu karena
terjadinya suatu pelanggaran. Pengendalian sosial secara represif dilakukan
dengan cara menjatuhkan sanksi sesuai dengan besar-kecilnya pelanggaran yang
dilakukan. (3) Pengendalian intrinsik dan ekstrinsik, pengendalian intrinsik
adalah pengendalian oleh diri seorang individu dengan berfikir secara jernih,
sabar, dan jujur sehingga seseorang tidak terjerumus ke dalam tindakan-tindakan
yang menyimpang, di dalam ilmu jiwa, alat pengendali ini dinamakan hati nurani,
hati nurani pada dasarnya selalu bersifat jujur dan benar, seakan merupakan
petunjuk Tuhan kepada umat-Nya secara abstrak dan spiritual. Pengendalian ekstrinsik, adalah
pengendalian terhadap perilaku menyimpang oleh pihak lain antara lain bisa
dilakukan oleh orang tua, keluarga dan kerabat, pihak tokoh agama, dan
masyarakat, serta aparatur negara
seperti kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan. (4) Pengendalian internal dan
eksternal, pengendalian sosial internal adalah pengendalian sosial yang berasal
dari dalam lembaga itu sendiri, misalnya pada Departemen Pendidikan Nasional
ada aparat pengendali yang di sebut inspektur jenderal / hingga para pengawas
di tingkat pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi, semua bentuk
pengawasan ataupun pengendalian yang dilakukan dari dalam lembaganya sendiri
disebut pengendalian sosial internal. Pengendalian eksternal, merupakan
pengendalian sosial yang berasal dari
luar lembaga, misalnya oleh kepolisian atau oleh tokoh-tokoh masyarakat selaku
pengamat pelaksanaan kebijakan
pemerintah.(HTS, Edukatif. 2010)
Demikian dalam menyelesaikan konflik adanya
pengendalian-pengendalian terhadap siswa yaitu dengan mengajarkan beberapa hal
tentang pendidikan moral serta agama supaya dapat bertoleransi terhadap orang
lain yang berbeda dengan dirinya.
SUMBER PUSTAKA
HTS,
Edukatif. 2010. Modul
Sosiologi. Surakarta : Hayati Tumbuh Subur
Simpati,
Kreatif. 2010. Sosiologi. Surakarta :Grahadi
Wijayanti,
Diatmika.2012. Detik-Detik Ujian Nasional Sosiologi. Klaten : Intan
Patiwara

Tidak ada komentar:
Posting Komentar