WISATA
DALAM TENGANAN
Oleh : Ahmad
Mutho’illah 3401412141
Pendahuluan
Wisata
berhubungan erat dengan piknik, pariwisata, dan lain-lain. Untuk sebagian
orang, agenda wisata setiap tahunnya telah menjadi sebuah kebutuhan layaknya
kebutuhan primer. Dasar dari pandangan ini adalah wisata digunakan sebagai keseimbangan
hidup setelah sekian hari berkutat dengan pekerjaan yang memiliki jadwal yang
ketat. Sehingga dengan melakukan wisata akan mengubah
tubuh dan pikiran mereka menjadi segar kembali sehingga bisa bekerja dengan
lebih maksimal lagi setelah itu. Sedangkan pariwisata menurut Richard
Sihite dalam Marpaung dan Bahar (2000 : 46-47) menjelaskan definisi
pariwisata sebagai berikut: Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan
orang untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat
lain meninggalkan tempatnya semula, dengan suatu perencanaan
dan dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang
dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati kegiatan bertamasya dan rekreasi atau untuk
memenuhi keinginan yang beraneka ragam.
Wisata di Tenganan Bali, mungkin belum banyak orang yang
mengetahuinya, jika browsing di internet mungkin mendapatkan wisata di dalam
Tenganan adalah Candi Dasa, berbalik 100 derajat wisata di dalam Tenganan bukan
merupakan Candi Dasa melainkan bentuk masyarakatnya
yang merupakan salah satu masyarakat Bali Aga dengan mempertahankan
peraturan-peraturan tertulis yang di sebut dengan awig-awig sejak dulu,
dan kebudayaan serta hasil kebudayaan yang ada, seperti: pure, tradisi bolong
kuping, kerajinan kain gringsing, dan tradisi perang pandan bahkan
upacara-upacara adat. Di mana kebudayaan tersebut di wariskan dan laksanakan
setiap hari dan tiap tahunnya.
Kerangka Teori
Fungsionalisme Malinowski
- Manusia hidup karena adanya kebutuhan-kebutuhan individu di dalamnya
- Kebutuhan tersebut yang menggerakkan elemen-elemen dalam masyarakat
- Elemen masyarakat yaitu adanya fungsionalisme (organisme), disfungsional (pengganggu), non – fungsional (tidak berfungsi)
- Tiap unsur kebudayaan pada hakikatnya merupakan manifestasi manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya.
Analisis
Masyarakat adat Tenganan
terletak di kecamatan Manggis, kabupaten Karangasem, masyarakat tersebut memiliki
beberapa kebudayaan serta fungsinya di antaranya
yaitu: Pertama, perang pandan merupakan sebuah
tradisi yang hingga kini masih dijaga keberadaannya atau dilestarikan oleh
masyarakat desa Aga Tenganan, Bali. Perang Pandan sudah menjadi tradisi yang
wajib ada di setiap tahunnya. Upacara Perang Pandan adalah upacara
persembahan yang dilakukan untuk menghormati Dewa Indra (dewa perang) dan para pasukannya yang
telah memenangkan perang dan
menyelamatkan warga desa Tenganan dari genggaman Raja yang kejam.
Perang Pandan disebut juga mekare-kare. Kegiatan upacara ritual ini diadakan
tiap tahun bulan juni di Desa Tenganan.
Tempat pelaksanaan tradisi Perang Pandan ini adalah di depan Bale Patemu (balai
pertemuan yang ada di halaman desa). Waktu pelaksanaan biasanya dimulai jam
14.00 siang di mana semua warga menggunakan pakaian adat Tenganan (kain tenun
Pegringsingan), dan para pria tanpa pakaian atas bertarung satu lawan satu
berbekal pandan berduri yang diikat menjadi satu berbentuk sebuah gada. Perang
pandan yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Desa Aga Tenganan antara
lain berfungsi sebagai, kepercayaan warga Tenganan agak berbeda dengan warga
Bali pada umumnya. Perang ini adalah bagian dari upacara agama, karena fungsi
perang ini juga sebagai persembahan kepada dewa indra. Perang pandan di kategorikan
sebagai Tari wali/ tari sakral yang hanya bisa di pentaskan dan diadakan pada
saat yang sudah di tentukan, jadi tidak boleh digeser dan ditambah. Dan
berfungsi sebagai upaya menciptakan
keseimbangan antara dunia natural dengan supernatural. Di mana perang pandan
merupakan kebutuhan yang melekat masyarakat adat Tenganan yang dapat
dilihat dengan adanya upacara
penghormatan kepada dewa Indra atas jasanya, dan perang pandan sebagai media sosialisasi interaksi antar masyarakat adat Tenganan dalam
menjalin berbagai keakraban yang terjadi di dalam masyarakat tersebut.
Kedua, kain gringsing adalah satu-satunya kain
tenun tradisional Indonesia yang dibuat dari akar-akar tanaman yang memerlukan
waktu 2 - 5 tahun dalam proses pembuatannya, kain ini digunakan dalam melakukan
berbagai suvenir di dalam masyarakat adat Tenganan untuk pengunjung yang datang
dan kain gringsing mempunyai simbol bahwa kain tersebut menolak bahaya penyakit
bagi orang-orang yang memakainya.
Ketiga, adanya awig-awig
merupakan suatu norma tertulis yang
mengatur tatanan sebuah kehidupan masyarakat desa adat Tenganan Pegringsingan,
termasuk pula dalam hubungannya mengatur hubungan antara manusia dengan
manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan tuhannya, yaitu bisa di
tarik bahwa awik-awik mengatur dalam pemenuhan tingkah laku dalam kehidupan di
dalam masyarakat Tenganan. Terakhir, tradisi bolong kuping di desa adat Tenganan diperuntukkan pada laki- laki
dan pada perempuan namun mempunyai fungsi yang berbeda. Fungsi bagi perempuan
pada dasarnya yaitu sebagai perhiasan agar seorang perempuan tampak cantik,
sedangkan pada laki laki yaitu sebagai syarat seorang laki- laki agar dapat
mengikuti upacara adat. Fungsi menindik telinga pada anak laki-laki di desa
adat Tenganan Bali adalah untuk pelengkap saat upacara adat yang dilakukan di
desa tersebut. Bolong Kuping pada
anak laki- laki di desa adat Tenganan merupakan tradisi khusus yang dijadikan
simbol identitas masyarakat adat Tenganan, di mana adanya kebutuhan masyarakat
akan pentingnya bolong kuping bagi anak laki-laki dan sebagai simbol dan
persyaratan anak tersebut boleh ikut serta dalam mengikuti upacara-upacara
adat dalam masyarakat desa adat Tenganan.
Penutup
Dalam masyarakat Tenganan terdapat berbagai kebudayaan
yang di mana kebudayaan-kebudayaan tersebut berperan dalam memenuhi kebutuhan
sebagai masyarakat adat Tenganan seperti kain gringsing, awik-awik, perang pandan,
dan bolong kuping dan sekaligus sebagai desa wisata kebudayaan, yang
memiliki fungsi-fungsi dalam kehidupan bermasyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar