Selasa, 01 Oktober 2013

Wisata dalam Tenganan






WISATA DALAM TENGANAN
Oleh : Ahmad Mutho’illah 3401412141


Pendahuluan
         Wisata berhubungan erat dengan piknik, pariwisata, dan lain-lain. Untuk sebagian orang, agenda wisata setiap tahunnya telah menjadi sebuah kebutuhan layaknya kebutuhan primer. Dasar dari pandangan ini adalah wisata digunakan sebagai keseimbangan hidup setelah sekian hari berkutat dengan pekerjaan yang memiliki jadwal yang ketat. Sehingga dengan melakukan wisata akan mengubah tubuh dan pikiran mereka menjadi segar kembali sehingga bisa bekerja dengan lebih maksimal lagi setelah itu. Sedangkan pariwisata menurut Richard Sihite dalam Marpaung dan Bahar (2000 : 46-47) menjelaskan definisi pariwisata sebagai berikut: Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan orang untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain meninggalkan tempatnya semula, dengan suatu perencanaan dan dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati kegiatan bertamasya dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam.
Wisata di Tenganan Bali, mungkin belum banyak orang yang mengetahuinya, jika browsing di internet mungkin mendapatkan wisata di dalam Tenganan adalah Candi Dasa, berbalik 100 derajat wisata di dalam Tenganan bukan merupakan Candi Dasa melainkan bentuk  masyarakatnya yang merupakan salah satu masyarakat Bali Aga dengan mempertahankan peraturan-peraturan tertulis yang di sebut dengan awig-awig sejak dulu, dan kebudayaan serta hasil kebudayaan yang ada, seperti: pure, tradisi bolong kuping, kerajinan kain gringsing, dan tradisi perang pandan bahkan upacara-upacara adat. Di mana kebudayaan tersebut di wariskan dan laksanakan setiap hari dan tiap tahunnya.







Kerangka Teori
Fungsionalisme Malinowski

  1.  Manusia hidup karena adanya kebutuhan-kebutuhan individu di dalamnya
  2. Kebutuhan tersebut yang menggerakkan elemen-elemen dalam masyarakat
  3. Elemen masyarakat yaitu adanya fungsionalisme (organisme), disfungsional (pengganggu), non – fungsional (tidak berfungsi)
  4. Tiap unsur kebudayaan pada hakikatnya merupakan manifestasi manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan hidupnya.

Analisis
       Masyarakat adat  Tenganan terletak di kecamatan Manggis, kabupaten Karangasem, masyarakat tersebut memiliki beberapa kebudayaan  serta fungsinya di antaranya yaitu: Pertama, perang pandan merupakan sebuah tradisi yang hingga kini masih dijaga keberadaannya atau dilestarikan oleh masyarakat desa Aga Tenganan, Bali. Perang Pandan sudah menjadi tradisi yang wajib ada di setiap tahunnya. Upacara Perang Pandan adalah upacara persembahan yang dilakukan untuk menghormati Dewa Indra (dewa perang) dan para pasukannya yang telah memenangkan perang  dan menyelamatkan warga desa Tenganan dari genggaman Raja yang kejam. Perang Pandan disebut juga mekare-kare. Kegiatan upacara ritual ini diadakan tiap tahun bulan  juni di Desa Tenganan. Tempat pelaksanaan tradisi Perang Pandan ini adalah di depan Bale Patemu (balai pertemuan yang ada di halaman desa). Waktu pelaksanaan biasanya dimulai jam 14.00 siang di mana semua warga menggunakan pakaian adat Tenganan (kain tenun Pegringsingan), dan para pria tanpa pakaian atas bertarung satu lawan satu berbekal pandan berduri yang diikat menjadi satu berbentuk sebuah gada. Perang pandan yang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Desa Aga Tenganan antara lain berfungsi sebagai, kepercayaan warga Tenganan agak berbeda dengan warga Bali pada umumnya. Perang ini adalah bagian dari upacara agama, karena fungsi perang ini juga sebagai persembahan kepada dewa indra. Perang pandan di kategorikan sebagai Tari wali/ tari sakral yang hanya bisa di pentaskan dan diadakan pada saat yang sudah di tentukan, jadi tidak boleh digeser dan ditambah. Dan berfungsi sebagai upaya menciptakan keseimbangan antara dunia natural dengan supernatural. Di mana perang pandan merupakan kebutuhan yang melekat masyarakat adat Tenganan yang dapat dilihat  dengan adanya upacara penghormatan kepada dewa Indra atas jasanya, dan perang pandan sebagai  media sosialisasi  interaksi antar masyarakat adat Tenganan dalam menjalin berbagai keakraban yang terjadi di dalam masyarakat tersebut. Kedua, kain gringsing adalah satu-satunya kain tenun tradisional Indonesia yang dibuat dari akar-akar tanaman yang memerlukan waktu 2 - 5 tahun dalam proses pembuatannya, kain ini digunakan dalam melakukan berbagai suvenir di dalam masyarakat adat Tenganan untuk pengunjung yang datang dan kain gringsing mempunyai simbol bahwa kain tersebut menolak bahaya penyakit bagi orang-orang yang memakainya.
Ketiga, adanya  awig-awig merupakan suatu norma tertulis  yang mengatur tatanan sebuah kehidupan masyarakat desa adat Tenganan Pegringsingan, termasuk pula dalam hubungannya mengatur hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan tuhannya, yaitu bisa di tarik bahwa awik-awik mengatur dalam pemenuhan tingkah laku dalam kehidupan di dalam masyarakat Tenganan. Terakhir,  tradisi bolong kuping di desa adat Tenganan diperuntukkan pada laki- laki dan pada perempuan namun mempunyai fungsi yang berbeda. Fungsi bagi perempuan pada dasarnya yaitu sebagai perhiasan agar seorang perempuan tampak cantik, sedangkan pada laki laki yaitu sebagai syarat seorang laki- laki agar dapat mengikuti upacara adat. Fungsi menindik telinga pada anak laki-laki di desa adat Tenganan Bali adalah untuk pelengkap saat upacara adat yang dilakukan di desa tersebut. Bolong Kuping pada anak laki- laki di desa adat Tenganan merupakan tradisi khusus yang dijadikan simbol identitas masyarakat adat Tenganan, di mana adanya kebutuhan masyarakat akan pentingnya bolong kuping bagi anak laki-laki dan sebagai simbol dan persyaratan  anak tersebut boleh  ikut serta dalam mengikuti upacara-upacara adat dalam masyarakat desa adat Tenganan.





Penutup

       Dalam masyarakat Tenganan terdapat berbagai kebudayaan yang di mana kebudayaan-kebudayaan tersebut berperan dalam memenuhi kebutuhan sebagai masyarakat adat Tenganan seperti kain gringsing, awik-awik, perang pandan, dan bolong kuping dan sekaligus sebagai desa wisata kebudayaan, yang memiliki fungsi-fungsi dalam kehidupan bermasyarakat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar