Di tulis oleh: Heddy Shri Ahimsa Putra
I. PENDAHULUAN.
Tema yang disodorkan pada saya oleh pihak redaksi jelas-jelas mengingatkan saya pada judul buku yang ditulis oleh Marcus dan Fischer, Anthropology as Cultural Critique, yang terbit pada pertengahan tahun '80-an. Dalam buku ini Marcus dan Fischer mencoba menelusuri salah satu jalur perkembangan yang ada dalam antropologi budaya , yaitu jalur penulisan etnografi.
Marcus dan Fischer antara lain menunjukkan bahwa para ahli antropologi sudah sejak lama melakukan kritik terhadap kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat mereka, walaupun strategi yang ditempuh berbeda-beda. Ada yang melakukannya secara terang-terangan, sehingga menimbulkan reaksi keras dari ilmuwan yang lain, ada pula yang melakukannya secara tersembunyi, sehingga kritik tersebut agak sulit diketahui jika isi tulisan serta tehnik retorikanya tidak disimak dengan teliti.
Apa yang dikerjakan oleh Marcus dan Fischer memang sudah mungkin untuk dilakukan, mengingat tradisi penulisan etnografi yang menjadi dasar bagi lahirnya disiplin Antropologi Budaya di dunia Barat sudah tumbuh sejak lama. Bahkan dapat diruntut hingga masa peradaban Yunani Kuno, yang menjadi akar peradaban Barat, ketika Herodotus mulai menuliskan apa yang dia lihat, dengar dan alami dalam perjalanannya ke berbagai tempat di dunia (Voget, 1954). Oleh karena lamanya tradisi penulisan etnografi di sana, maka apa yang dilakukan oleh Marcus dan Fischer memang tepat dan penting bagi upaya mengembangkan dan memberdayakan kritik melalui etnografi dalam antropologi (terutama di Barat) , serta sangat relevan dengan kepentingan masyarakat mereka, yang sudah lama mengenal tradisi self-critique untuk mengembangkan dan memajukan dirinya.
Dari telaah mereka atas berbagai etnografi tersebut, Marcus dan Fischer kemudian juga mengusulkan beberapa langkah yang dapat ditempuh oleh para ahli antropologi untuk melakukan kritik kebudayaan yang lebih keras dan kuat terhadap budaya masyarakat masing-masing melalui penulisan etnografi. Usul ini memang sangat menarik, sehingga muncul kemudian pertanyaan dalam diri kita, peminat antropologi di Indonesia: Mungkinkah kita menghadirkan kritik semacam itu di Indonesia ? Dan relevankah tindakan semacam itu ?
Saya akan berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu berdasarkan atas hasil pengamatan dan pengetahuan saya mengenai jenis etnografi yang berkembang di Indonesia, serta aktivitas para ahli antropologinya. Saya berharap, dari tulisan ini akan muncul berbagai tanggapan, yang dapat melahirkan pandangan-pandangan baru, yang moga-moga dapat pula mendorong bangkitnya arah-arah baru dalam analisis dan penulisan etnografi di kalangan kita.
Untuk memudahkan pembaca mengikuti alur pemikiran saya, tulisan ini saya bagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama adalah uraian tentang etnografi sebagai suatu bentuk kritik kebudayaan, sebagaimana yang dipaparkan oleh Marcus dan Fischer. Bagian kedua adalah tentang beberapa ciri etnografi yang ditulis oleh para ahli antropologi di Indonesia, sedang bagian terakhir adalah mengenai kemungkinan lahirnya penulisan etnografi sebagai salah satu strategi untuk melakukan kritik terhadap kebudayaan yang sedang dominan di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar