Sabtu, 27 April 2013

Etnografi Sebagai Kritik Budaya

Dalam membahas kritik kebudayaan yang dilakukan oleh para ilmuwan Barat, Marcus dan Fischer mencoba menelusuri tradisi tersebut semenjak munculnya Antropologi Budaya sebagai disiplin baru dalam jagad ilmu pengetahuan pada abad yang lalu. Namun demikian titik pusat perhatian diarahkan terutama pada apa yang dilakukan oleh para ahli antropologi semenjak tahun 1920-an, ketika penulisan etnografi dengan gaya yang baru dan berdasarkan atas penelitian lapangan yang serius dimulai oleh Bronislaw Malinowski, dan kemudian menjadi sebuah tradisi yang bertambah kuat, serta tetap mampu bertahan dalam Antropologi Budaya hingga kini.
Tradisi kritik terhadap kebudayaan sendiri di kalangan ilmuwan Barat muncul tidak hanya di kalangan ahli antropologi saja, tetapi juga di kalangan ilmuwan sosial lainnya. Ada dua kelompok di luar antropologi yang telah banyak melontarkan kritik kebudayaan, yakni Frankfurt School (Aliran Frankfurt) dari Jerman (Barat) dan aliran Surealis dari Perancis. Dua kelompok ini -terutama aliran Frankfurt- sempat mendominasi kritik sosial-budaya yang tumbuh di daratan Eropa, dan kemudian juga banyak mempengaruhi para ilmuwan sosial-budaya di Amerika Serikat, termasuk para ahli antropologinya.
Aliran Frankfurt yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Max Horkheimer, Theodor Adorno, Herbert Marcuse, dan sebagainya, pada dasarnya berupaya menganalisis dan menjelaskan kegagalan-kegagalan sosialisme revolusioner di Eropa Barat, totalitarianisme komunisme di Eropa Timur, krisis ekonomi yang terjadi di tahun 1929, pertumbuhan yang terus-menerus dari berbagai bentuk monopoli di bidang ekonomi, serta pasang naik fasisme di daratan Eropa pada masa itu. Dalam analisis atas berbagai peristiwa tersebut Aliran Frankfurt sempat melontarkan pandangan-pandangan baru yang kritis terhadap masyarakat Eropa Barat di masa itu. Horkheimer dan Adorno misalnya, mempertanyakan kembali proses sosialisasi dalam keluarga di kalangan orang Eropa. Mereka beranggapan bahwa mungkin sekali dinamika kejiwaan dalam pembentukan identitas yang berlangsung dalam masyarakat Eropa tidak atau belum mengalami perubahan, sehingga otoritarianisme yang mereka tolak atau hindari malah menjadi tampak semakin wajar bagi mereka, bukan sebaliknya. Selain itu mereka juga menduga, jangan-jangan “industrial production of culture” telah tidak lagi berfungsi sehingga proses produksi tersebut malah menguatkan kecenderungan-kecenderungan otoritarianisme tersebut (Marcus dan Fischer, 1986: 119-120).
Upaya mempertahankan kembali pranata-pranata sosial-budaya yang telah mapan dalam masyarakat sendiri seperti di atas merupakan salah satu ciri penting dari aliran Frankfurt. Strategi dan kritik yang dilontarkan oleh aliran ini menunjukkan bahwa aliran tersebut telah mempelopori pendekatan-pendekatan yang “politically sensitive” dalam mempelajari keluarga dan industri budaya sebagai suatu sarana untuk memahami budaya massa (mass culture) dalam masyarakat-masyarakat modern.
Masih banyak lagi sebenarnya kritik sosial-budaya lain yang tajam dan mampu membangkitkan pandangan kritis, yang dilancarkan oleh aliran Frankfurt. Namun demikian, apa yang telah mereka kerjakan juga tidak luput dari beberapa cacat. Salah satu kelemahan yang pantas untuk kita catat karena relevansinya dengan antropologi adalah bahwa aliran Frankfurt telah gagal dalam menguji ide-ide yang mereka lontarkan pada kenyataan-kenyataan empiris, sehingga berbagai pandangan mereka yang kritis dan menarik lantas agak kehilangan kesahihannya. Orang pun balik mempertanyakan pandangan-pandangan kritis tersebut. Di sinilah sebenarnya diperlukan penelitian-penelitian yang lebih intensif dan teliti mengenai masyarakat Eropa Barat sendiri, guna membuktikan kebenaran kritik dan pandangan tokoh-tokoh aliran Frankfurt. Dengan kata lain, aliran Frankfurt sebenarnya perlu mendukung kritik-kritik sosial yang mereka lontarkan dengan data etnografis yang kuat atau dengan melakukan penelitian-penelitian etnografis yang serius mengenai masyarakat Eropa Barat sendiri.
Apa yang kita dapati pada aliran Frankfurt tampaknya merupakan kebalikan dari apa yang ada pada aliran Surealis dari Prancis, yang muncul juga pada tahun ‘20-an. Tokoh-tokoh dalam aliran ini antara lain adalah Andre Breton, Michael Leoris dan Georges Bataille. Sebagai suatu “aliran”, Surealisme Prancis tidaklah sesolid dan setenar aliran Frankfurt. Pemikiran-pemikiran teoritisnya tidak sangat menonjol, sehingga di Indonesia juga tidak sangat dikenal, sementara kritik-kritik sosial-budayanya juga tidak sangat eksplisit. Kelebihan kelompok ini dibandingkan dengan aliran Frankfurt adalah pada etnografinya, karena tokoh-tokoh aliran ini memang lebih memperhatikan persoalan-persoalan bagaimana mereka dapat melukiskan kenyataan-kenyataan empiris yang mereka jumpai dengan “baik”. Oleh karena itu pula, menurut sebagian ahli antropologi, aliran Surealis ini pantas untuk mendapat perhatian cukup serius. Aliran Surealis ini sendiri aslinya adalah aliran dalam kesenian, terutama seni lukis, namun di Prancis, aliran ini ternyata sempat berpengaruh pada ilmuwan sosial-budaya, terutama mereka yang berminat untuk menulis etnografi.
Ada dua hal penting yang muncul di kalangan penulis-penulis etnografi di Prancis setelah kontak mereka dengan Surealisme dalam kesenian. Pertama adalah kesadaran akan adanya critical potentials (potensi kritis) dalam penulisan etnografi. Potensi ini akan dapat dimanfaatkan atau ditampilkan bilamana para ahli antropologi bersedia sungguh-sungguh memaknai “realitas modern” sebagai “juxtaposing of alternative cultural viewpoints”. Yang kedua adalah pandangan bahwa “kebudayaan” merupakan bangunan-bangunan yang luwes (flexible constructions) dari berbagai kemampuan kreatif manusia. Pandangan semacam ini, jika diikuti, akan membuat seorang penulis etnografi lantas berani menampilkan, membukakan pada pihak luar berbagai prosedur yang mereka ikuti dalam menggambarkan, melukiskan, suatu kebudayaan. Lebih lanjut, Surealisme ternyata juga telah membuat para penulis etnografi Prancis lebih sadar-diri (self-conscious) bahwa mereka adalah penulis-penulis belaka. Kesadaran semacam ini rupanya telah membuat mereka mampu melihat adanya kemungkinan baru dalam menulis etnografi, yakni memasukkan “other authorial voices” atau suara-suara dari subyek yang mereka teliti ke dalam etnografi.
Di sini semakin tampak perbedaan yang ada antara aliran Frankfurt dengan aliran Surealis dalam etnografi dari Prancis. Kalau aliran Frankfurt banyak melontarkan kritik yang eksplisit terhadap realitas sosial-budaya yang ada dalam masyarakat Eropa Barat, maka aliran Etnografi Surealis dari Prancis melakukannya dengan lebih implisit, dan “kritik” tersebut lebih ditujukan pada cara para penulis etnografi menampilkan, merepresentasikan, kebudayaan-kebudayaan masyarakat yang mereka teliti. Meskipun demikian, terlepas dari perbedaan di antara ke dua aliran ini, dalam anggapan sebagian ahli antropologi kini (terutama di Amerika Serikat), keduanya telah memberikan pengaruh yang cukup besar pada cara para ahli antropologi di masa kini mengemukakan kritik sosial-budaya mereka melalui etnografi (Marcus dan Fischer, 1986).
Dalam antropologi sendiri tradisi melakukan kritik budaya sebenarnya sudah ada semenjak antropologi lahir sebagai satu cabang ilmu pengetahuan di abad 19, dan bagi kita di Indonesia mungkin akan cukup mengherankan bahwa kritik kebudayaan tersebut ternyata muncul pada awalnya melalui pemikiran-pemikiran yang evolusionistis dalam antropologi. Padahal, sebagaimana sering kita dengar, pemikiran evolusioner awal dalam antropologi sering dikecam karena sifatnya yang etnosentris, yang Eropa-sentris. Dalam hal ini, kita tidak boleh lupa, bahwa berbagai studi perbandingan yang ada di balik berbagai teori evolusi serta teorinya itu sendiri, sebenarnya merupakan serangkaian upaya untuk mengcounter, melawan, pandangan umum yang berlaku dalam masyarakat Eropa Barat di masa itu. Sebuah studi perbandingan yang memanfaatkan berbagai macam etnografi dengan tujuan untuk dapat merumuskan pandangan-pandangan umum yang berlandaskan pada kenyataan empiris adalah upaya yang serius untuk melawan pandangan-pandangan teologis mengenai masyarakat dan manusia di masa itu, seperti misalnya pandangan bahwa masyarakat-masyarakat sederhana di luar Eropa adalah masyarakat-masyarakat yang telah merosot dari kedudukannya yang mulia, dan karena itu sah untuk dijadikan budaya dan dijajah, bahwa ras Eropa memang ditakdirkan untuk menjadi ras yang mulia, dan sebagainya (Marcus dan Fischer, 1986). Memang, kritik-kritik ini umumnya lebih implisit sifatnya, tetapi dampaknya sama sekali tidak kecil terhadap pola-pola pemikiran orang Eropa di masa itu dan di kemudian hari. Dengan menggunakan studi perbandingan yang meluas –walaupun tanpa metode yang sangat jelas dan ketat—maka kesimpulan yang ditarik menjadi lebih kuat pijakannya secara empiris, daripada pandangan teologis, yang lebih didasarkan pada keyakinan saja. Hasilnya adalah kajian para ahli evolusi tersebut kemudian banyak diterima, terutama oleh para ilmuwan di masa itu. Salah satu kelemahan kritik budaya yang dilancarkan secara implisit oleh para ahli antropologi di abad yang lalu –yang membuat dampaknya tidak sangat luas—adalah sifatnya yang masih “ad hoc, fragmentary, and nostalgic” (Marcus dan Fischer, 1986: 129).
Kritik budaya dari para ahli antropologi di kemudian hari menjadi lebih eksplisit dengan munculnya etnografi-etnografi yang ditulis berdasarkan atas penelitian lapangan yang dilakukan dengan lebih serius. Etnografi yang lahir di tahun ’20 - 30-an ini antara lain menyampaikan pesan moral dan praktis pada masyarakat Barat yang telah kehilangan apa yang masih dimiliki oleh masyarakat-masyarakat primitif di luar Eropa. Di kalangan ahli antropologi Inggris kritik kebudayaan banyak disampaikan dengan menggunakan tema rationality , sedang di Amerika Serikat kritik budaya ini lebih banyak memanfaatkan tema cultural relativism (relativisme budaya).
Kritik kebudayaan sebagaimana dilontarkan oleh para ilmuwan sosial-budaya dan para ahli antropologi di atas masih terus berlanjut hingga kini, dan perbincangan mengenai kritik budaya dalam antropologi kontemporer inilah yang saya anggap akan banyak manfaatnya atau relevan bagi kita di Indonesia. Sebagaimana dikatakan oleh Marcus dan Fischer, strategi pokok dalam melakukan kritik budaya lewat penulisan etnografi di masa kini adalah defamiliarization, “pengasingan” atau “penganehan”, yang ditujukan untuk menghasilkan “disruption of common sense”. Dalam proses penulisan, strategi ini dapat diwujudkan dengan cara “doing the unexpected”, “placing subjects in unfamiliar, even shocking contexts”, dan sebagainya, sedang dalam etnografi, tehnik yang biasa digunakan oleh para penulis untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan melontarkan epistemological critique (kritik epistemologi) dan cross-cultural juxtapositions (pendampingan kebudayaan) (Marcus dan Fischer, 1986: 137).
Contoh dari strategi penganehan lewat kritik epistemologi adalah apa yang telah dikerjakan oleh ahli-ahli antropologi seperti Clifford Geertz, melalui bukunya Negara: The Theatre State, David Schneider, lewat bukunya American Kinship: A Cultural Account, atau Marshall Sahlins dengan bukunya Culture and Practical Reason. Untuk mengetahui lebih lanjut seperti apa strategi ini, kita pilih saja buku Geertz, karena apa yang dibicarakan Geertz di situ lebih dekat dengan kita. Dalam Negara Geertz mencoba mengritik cara pandang ilmuwan sosial dan politik Barat tentang “politik” melalui deskripsi mengenai apa yang dimaksud sebagai “negara” oleh orang Bali, dengan menggunakan sudut pandang struktural-fungsional dan tafsiriah (interpretive). Selain memaparkan “politik” Bali yang di sana-sini mirip politik di Barat, terutama dalam sistem dan beberapa aktivitasnya, Geertz juga menekankan berbagai status dan upacara yang ada dalam sistem politik Bali, yang membuat sistem tersebut kelihatan berbeda dengan sistem politik di Barat. Dengan menampilkan aspek upacara dan teatrikal dari negara, Geertz mengajak pembaca Barat untuk memandang kembali sistem politik mereka (yakni negara) lewat kacamata tersebut, karena sisi ini banyak diabaikan atau dilupakan dalam analisis politik di Barat, walaupun kehadirannya sangat jelas dalam kehidupan sehari-hari.
Cara yang kedua, yakni pendampingan kebudayaan (cross-cultural juxtapositions) untuk melancarkan kritik kebudayaan, dapat kita temukan pada etnografi yang ditulis misalnya oleh Margaret Mead, Coming of Age in Samoa. Dalam buku ini Margaret Mead mempertanyakan kembali praktek pengasuhan anak (child rearing practices) yang ada di kalangan keluarga Amerika, dengan mendampingkannya dengan praktek pengasuhan anak di kalangan orang-orang Samoa di lautan Teduh (Pasifik). Lewat etnografi ini orang Amerika diajak untuk menyadari bahwa “natural rebelliousness” yang ada di kalangan anak-anak Amerika yang sedang tumbuh dewasa sebenarnya sama sekali bukan hal yang “natural” sifatnya, tetapi terkait dengan budaya masyarakat, dengan pola pengasuhan anak, dengan cara keluarga-keluarga dalam suatu masyarakat membesarkan anak-anaknya.
Meskipun kritik budaya yang dilontarkan dalam dua contoh etnografi di atas cukup kuat pengaruhnya, namun dalam pandangan Marcus dan Fischer, kritik tersebut masih tergolong dalam versi yang “lemah”, karena kini telah mulai bermunculan kritik budaya dari versi yang dianggap lebih kuat. Sayangnya, kebanyakan kritik ini --yang sebagian besar berasal dari generasi ahli antropologi yang lebih muda-- masih dalam bentuk artikel-artikel (1986: 152).
Beberapa kritik budaya melalui penulisan etnografi dalam Antropologi Barat di atas, mau tidak mau menimbulkan sebuah pertanyaan tentang isi dan tujuan penulisan etnografi di Indonesia. Apakah isi etnografi di Indonesia sama dengan berbagai etnografi yang lahir dari pemikiran orang Barat? Ataukah etnografi di Indonesia memiliki ciri khususnya, yang membedakannya dengan etnografi-etnografi di negeri lain di mana disiplin Antropologi Budaya berkembang? Jawaban atas pertanyaan ini akan turut menentukan jawaban kita atas pertanyaan tentang relevansi serta kemungkinan dilancarkannya kritik budaya melalui penulisan etnografi, sebagaimana yang kita temui dalam etnografi dari Barat.

1 komentar:

  1. Slot Machine: Blackjack, Slots, Poker, Casino, Texas hold'em, Tournaments
    Slot Machine: Blackjack, Slots, Poker, 문경 출장안마 Casino, Texas hold'em, Tournaments: Check out 안산 출장마사지 our new 제주도 출장마사지 interactive tableshow in Blackjack, Slots, 순천 출장안마 Poker, 구리 출장샵

    BalasHapus