Dalam
membahas kritik kebudayaan yang dilakukan oleh para ilmuwan Barat, Marcus dan
Fischer mencoba menelusuri tradisi tersebut semenjak munculnya Antropologi
Budaya sebagai disiplin baru dalam jagad ilmu pengetahuan pada abad yang lalu.
Namun demikian titik pusat perhatian diarahkan terutama pada apa yang dilakukan
oleh para ahli antropologi semenjak tahun 1920-an, ketika penulisan etnografi
dengan gaya yang baru dan berdasarkan atas penelitian lapangan yang serius
dimulai oleh Bronislaw Malinowski, dan kemudian menjadi sebuah tradisi yang
bertambah kuat, serta tetap mampu bertahan dalam Antropologi Budaya hingga
kini.
Tradisi kritik terhadap kebudayaan sendiri di kalangan ilmuwan Barat muncul
tidak hanya di kalangan ahli antropologi saja, tetapi juga di kalangan ilmuwan
sosial lainnya. Ada dua kelompok di luar antropologi yang telah banyak
melontarkan kritik kebudayaan, yakni Frankfurt School (Aliran Frankfurt) dari
Jerman (Barat) dan aliran Surealis dari Perancis. Dua kelompok ini -terutama
aliran Frankfurt- sempat mendominasi kritik sosial-budaya yang tumbuh di
daratan Eropa, dan kemudian juga banyak mempengaruhi para ilmuwan sosial-budaya
di Amerika Serikat, termasuk para ahli antropologinya.
Aliran Frankfurt yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Max Horkheimer,
Theodor Adorno, Herbert Marcuse, dan sebagainya, pada dasarnya berupaya
menganalisis dan menjelaskan kegagalan-kegagalan sosialisme revolusioner di
Eropa Barat, totalitarianisme komunisme di Eropa Timur, krisis ekonomi yang
terjadi di tahun 1929, pertumbuhan yang terus-menerus dari berbagai bentuk
monopoli di bidang ekonomi, serta pasang naik fasisme di daratan Eropa pada
masa itu. Dalam analisis atas berbagai peristiwa tersebut Aliran Frankfurt
sempat melontarkan pandangan-pandangan baru yang kritis terhadap masyarakat
Eropa Barat di masa itu. Horkheimer dan Adorno misalnya, mempertanyakan kembali
proses sosialisasi dalam keluarga di kalangan orang Eropa. Mereka beranggapan
bahwa mungkin sekali dinamika kejiwaan dalam pembentukan identitas yang
berlangsung dalam masyarakat Eropa tidak atau belum mengalami perubahan,
sehingga otoritarianisme yang mereka tolak atau hindari malah menjadi tampak
semakin wajar bagi mereka, bukan sebaliknya. Selain itu mereka juga menduga,
jangan-jangan “industrial production of culture” telah tidak lagi berfungsi
sehingga proses produksi tersebut malah menguatkan kecenderungan-kecenderungan
otoritarianisme tersebut (Marcus dan Fischer, 1986: 119-120).
Upaya mempertahankan kembali pranata-pranata sosial-budaya yang telah mapan
dalam masyarakat sendiri seperti di atas merupakan salah satu ciri penting dari
aliran Frankfurt. Strategi dan kritik yang dilontarkan oleh aliran ini
menunjukkan bahwa aliran tersebut telah mempelopori pendekatan-pendekatan yang
“politically sensitive” dalam mempelajari keluarga dan industri budaya sebagai
suatu sarana untuk memahami budaya massa (mass culture) dalam
masyarakat-masyarakat modern.
Masih banyak lagi sebenarnya kritik sosial-budaya lain yang tajam dan mampu
membangkitkan pandangan kritis, yang dilancarkan oleh aliran Frankfurt. Namun
demikian, apa yang telah mereka kerjakan juga tidak luput dari beberapa cacat.
Salah satu kelemahan yang pantas untuk kita catat karena relevansinya dengan
antropologi adalah bahwa aliran Frankfurt telah gagal dalam menguji ide-ide
yang mereka lontarkan pada kenyataan-kenyataan empiris, sehingga berbagai
pandangan mereka yang kritis dan menarik lantas agak kehilangan kesahihannya. Orang
pun balik mempertanyakan pandangan-pandangan kritis tersebut. Di sinilah
sebenarnya diperlukan penelitian-penelitian yang lebih intensif dan teliti
mengenai masyarakat Eropa Barat sendiri, guna membuktikan kebenaran kritik dan
pandangan tokoh-tokoh aliran Frankfurt. Dengan kata lain, aliran Frankfurt
sebenarnya perlu mendukung kritik-kritik sosial yang mereka lontarkan dengan
data etnografis yang kuat atau dengan melakukan penelitian-penelitian
etnografis yang serius mengenai masyarakat Eropa Barat sendiri.
Apa yang kita dapati pada aliran Frankfurt tampaknya merupakan kebalikan dari
apa yang ada pada aliran Surealis dari Prancis, yang muncul juga pada tahun
‘20-an. Tokoh-tokoh dalam aliran ini antara lain adalah Andre Breton, Michael
Leoris dan Georges Bataille. Sebagai suatu “aliran”, Surealisme Prancis
tidaklah sesolid dan setenar aliran Frankfurt. Pemikiran-pemikiran teoritisnya
tidak sangat menonjol, sehingga di Indonesia juga tidak sangat dikenal,
sementara kritik-kritik sosial-budayanya juga tidak sangat eksplisit. Kelebihan
kelompok ini dibandingkan dengan aliran Frankfurt adalah pada etnografinya,
karena tokoh-tokoh aliran ini memang lebih memperhatikan persoalan-persoalan
bagaimana mereka dapat melukiskan kenyataan-kenyataan empiris yang mereka
jumpai dengan “baik”. Oleh karena itu pula, menurut sebagian ahli antropologi,
aliran Surealis ini pantas untuk mendapat perhatian cukup serius. Aliran
Surealis ini sendiri aslinya adalah aliran dalam kesenian, terutama seni lukis,
namun di Prancis, aliran ini ternyata sempat berpengaruh pada ilmuwan
sosial-budaya, terutama mereka yang berminat untuk menulis etnografi.
Ada dua hal penting yang muncul di kalangan penulis-penulis etnografi di
Prancis setelah kontak mereka dengan Surealisme dalam kesenian. Pertama adalah
kesadaran akan adanya critical potentials (potensi kritis) dalam penulisan
etnografi. Potensi ini akan dapat dimanfaatkan atau ditampilkan bilamana para
ahli antropologi bersedia sungguh-sungguh memaknai “realitas modern” sebagai
“juxtaposing of alternative cultural viewpoints”. Yang kedua adalah pandangan
bahwa “kebudayaan” merupakan bangunan-bangunan yang luwes (flexible
constructions) dari berbagai kemampuan kreatif manusia. Pandangan semacam ini,
jika diikuti, akan membuat seorang penulis etnografi lantas berani menampilkan,
membukakan pada pihak luar berbagai prosedur yang mereka ikuti dalam
menggambarkan, melukiskan, suatu kebudayaan. Lebih lanjut, Surealisme ternyata
juga telah membuat para penulis etnografi Prancis lebih sadar-diri (self-conscious)
bahwa mereka adalah penulis-penulis belaka. Kesadaran semacam ini rupanya telah
membuat mereka mampu melihat adanya kemungkinan baru dalam menulis etnografi,
yakni memasukkan “other authorial voices” atau suara-suara dari subyek yang
mereka teliti ke dalam etnografi.
Di sini semakin tampak perbedaan yang ada antara aliran Frankfurt dengan aliran
Surealis dalam etnografi dari Prancis. Kalau aliran Frankfurt banyak
melontarkan kritik yang eksplisit terhadap realitas sosial-budaya yang ada
dalam masyarakat Eropa Barat, maka aliran Etnografi Surealis dari Prancis
melakukannya dengan lebih implisit, dan “kritik” tersebut lebih ditujukan pada
cara para penulis etnografi menampilkan, merepresentasikan,
kebudayaan-kebudayaan masyarakat yang mereka teliti. Meskipun demikian,
terlepas dari perbedaan di antara ke dua aliran ini, dalam anggapan sebagian
ahli antropologi kini (terutama di Amerika Serikat), keduanya telah memberikan
pengaruh yang cukup besar pada cara para ahli antropologi di masa kini mengemukakan
kritik sosial-budaya mereka melalui etnografi (Marcus dan Fischer, 1986).
Dalam antropologi sendiri tradisi melakukan kritik budaya sebenarnya sudah ada
semenjak antropologi lahir sebagai satu cabang ilmu pengetahuan di abad 19, dan
bagi kita di Indonesia mungkin akan cukup mengherankan bahwa kritik kebudayaan
tersebut ternyata muncul pada awalnya melalui pemikiran-pemikiran yang
evolusionistis dalam antropologi. Padahal, sebagaimana sering kita dengar,
pemikiran evolusioner awal dalam antropologi sering dikecam karena sifatnya
yang etnosentris, yang Eropa-sentris. Dalam hal ini, kita tidak boleh lupa,
bahwa berbagai studi perbandingan yang ada di balik berbagai teori evolusi
serta teorinya itu sendiri, sebenarnya merupakan serangkaian upaya untuk mengcounter,
melawan, pandangan umum yang berlaku dalam masyarakat Eropa Barat di masa itu.
Sebuah studi perbandingan yang memanfaatkan berbagai macam etnografi dengan
tujuan untuk dapat merumuskan pandangan-pandangan umum yang berlandaskan pada
kenyataan empiris adalah upaya yang serius untuk melawan pandangan-pandangan
teologis mengenai masyarakat dan manusia di masa itu, seperti misalnya
pandangan bahwa masyarakat-masyarakat sederhana di luar Eropa adalah
masyarakat-masyarakat yang telah merosot dari kedudukannya yang mulia, dan
karena itu sah untuk dijadikan budaya dan dijajah, bahwa ras Eropa memang
ditakdirkan untuk menjadi ras yang mulia, dan sebagainya (Marcus dan Fischer,
1986). Memang, kritik-kritik ini umumnya lebih implisit sifatnya, tetapi
dampaknya sama sekali tidak kecil terhadap pola-pola pemikiran orang Eropa di
masa itu dan di kemudian hari. Dengan menggunakan studi perbandingan yang
meluas –walaupun tanpa metode yang sangat jelas dan ketat—maka kesimpulan yang
ditarik menjadi lebih kuat pijakannya secara empiris, daripada pandangan
teologis, yang lebih didasarkan pada keyakinan saja. Hasilnya adalah kajian
para ahli evolusi tersebut kemudian banyak diterima, terutama oleh para ilmuwan
di masa itu. Salah satu kelemahan kritik budaya yang dilancarkan secara
implisit oleh para ahli antropologi di abad yang lalu –yang membuat dampaknya
tidak sangat luas—adalah sifatnya yang masih “ad hoc, fragmentary, and
nostalgic” (Marcus dan Fischer, 1986: 129).
Kritik budaya dari para ahli antropologi di kemudian hari menjadi lebih
eksplisit dengan munculnya etnografi-etnografi yang ditulis berdasarkan atas
penelitian lapangan yang dilakukan dengan lebih serius. Etnografi yang lahir di
tahun ’20 - 30-an ini antara lain menyampaikan pesan moral dan praktis pada masyarakat
Barat yang telah kehilangan apa yang masih dimiliki oleh masyarakat-masyarakat
primitif di luar Eropa. Di kalangan ahli antropologi Inggris kritik kebudayaan
banyak disampaikan dengan menggunakan tema rationality , sedang di Amerika
Serikat kritik budaya ini lebih banyak memanfaatkan tema cultural relativism
(relativisme budaya).
Kritik kebudayaan sebagaimana dilontarkan oleh para ilmuwan sosial-budaya dan
para ahli antropologi di atas masih terus berlanjut hingga kini, dan
perbincangan mengenai kritik budaya dalam antropologi kontemporer inilah yang
saya anggap akan banyak manfaatnya atau relevan bagi kita di Indonesia.
Sebagaimana dikatakan oleh Marcus dan Fischer, strategi pokok dalam melakukan
kritik budaya lewat penulisan etnografi di masa kini adalah defamiliarization,
“pengasingan” atau “penganehan”, yang ditujukan untuk menghasilkan “disruption
of common sense”. Dalam proses penulisan, strategi ini dapat diwujudkan dengan
cara “doing the unexpected”, “placing subjects in unfamiliar, even shocking
contexts”, dan sebagainya, sedang dalam etnografi, tehnik yang biasa digunakan
oleh para penulis untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan melontarkan
epistemological critique (kritik epistemologi) dan cross-cultural
juxtapositions (pendampingan kebudayaan) (Marcus dan Fischer, 1986: 137).
Contoh dari strategi penganehan lewat kritik epistemologi adalah apa yang telah
dikerjakan oleh ahli-ahli antropologi seperti Clifford Geertz, melalui bukunya
Negara: The Theatre State, David Schneider, lewat bukunya American Kinship: A
Cultural Account, atau Marshall Sahlins dengan bukunya Culture and Practical
Reason. Untuk mengetahui lebih lanjut seperti apa strategi ini, kita pilih saja
buku Geertz, karena apa yang dibicarakan Geertz di situ lebih dekat dengan kita.
Dalam Negara Geertz mencoba mengritik cara pandang ilmuwan sosial dan politik
Barat tentang “politik” melalui deskripsi mengenai apa yang dimaksud sebagai
“negara” oleh orang Bali, dengan menggunakan sudut pandang
struktural-fungsional dan tafsiriah (interpretive). Selain memaparkan “politik”
Bali yang di sana-sini mirip politik di Barat, terutama dalam sistem dan
beberapa aktivitasnya, Geertz juga menekankan berbagai status dan upacara yang
ada dalam sistem politik Bali, yang membuat sistem tersebut kelihatan berbeda
dengan sistem politik di Barat. Dengan menampilkan aspek upacara dan teatrikal
dari negara, Geertz mengajak pembaca Barat untuk memandang kembali sistem
politik mereka (yakni negara) lewat kacamata tersebut, karena sisi ini banyak
diabaikan atau dilupakan dalam analisis politik di Barat, walaupun kehadirannya
sangat jelas dalam kehidupan sehari-hari.
Cara yang kedua, yakni pendampingan kebudayaan (cross-cultural juxtapositions)
untuk melancarkan kritik kebudayaan, dapat kita temukan pada etnografi yang
ditulis misalnya oleh Margaret Mead, Coming of Age in Samoa. Dalam buku ini
Margaret Mead mempertanyakan kembali praktek pengasuhan anak (child rearing
practices) yang ada di kalangan keluarga Amerika, dengan mendampingkannya
dengan praktek pengasuhan anak di kalangan orang-orang Samoa di lautan Teduh
(Pasifik). Lewat etnografi ini orang Amerika diajak untuk menyadari bahwa
“natural rebelliousness” yang ada di kalangan anak-anak Amerika yang sedang
tumbuh dewasa sebenarnya sama sekali bukan hal yang “natural” sifatnya, tetapi
terkait dengan budaya masyarakat, dengan pola pengasuhan anak, dengan cara
keluarga-keluarga dalam suatu masyarakat membesarkan anak-anaknya.
Meskipun kritik budaya yang dilontarkan dalam dua contoh etnografi di atas
cukup kuat pengaruhnya, namun dalam pandangan Marcus dan Fischer, kritik
tersebut masih tergolong dalam versi yang “lemah”, karena kini telah mulai
bermunculan kritik budaya dari versi yang dianggap lebih kuat. Sayangnya,
kebanyakan kritik ini --yang sebagian besar berasal dari generasi ahli
antropologi yang lebih muda-- masih dalam bentuk artikel-artikel (1986: 152).
Beberapa kritik budaya melalui penulisan etnografi dalam Antropologi Barat di
atas, mau tidak mau menimbulkan sebuah pertanyaan tentang isi dan tujuan
penulisan etnografi di Indonesia. Apakah isi etnografi di Indonesia sama dengan
berbagai etnografi yang lahir dari pemikiran orang Barat? Ataukah etnografi di
Indonesia memiliki ciri khususnya, yang membedakannya dengan
etnografi-etnografi di negeri lain di mana disiplin Antropologi Budaya
berkembang? Jawaban atas pertanyaan ini akan turut menentukan jawaban kita atas
pertanyaan tentang relevansi serta kemungkinan dilancarkannya kritik budaya
melalui penulisan etnografi, sebagaimana yang kita temui dalam etnografi dari
Barat.
Slot Machine: Blackjack, Slots, Poker, Casino, Texas hold'em, Tournaments
BalasHapusSlot Machine: Blackjack, Slots, Poker, 문경 출장안마 Casino, Texas hold'em, Tournaments: Check out 안산 출장마사지 our new 제주도 출장마사지 interactive tableshow in Blackjack, Slots, 순천 출장안마 Poker, 구리 출장샵